Manggar, Diskominfo SP Beltim – Dua hari mengikuti Pelatihan Fisik, Massage dan Psikologi Olahraga tidak sekadar menambah pengetahuan bagi para pelatih cabang olahraga (cabor) di bawah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Belitung Timur (Beltim). Sejumlah pelatih mengaku mendapat pemahaman baru yang dapat langsung diterapkan dalam mendampingi atlet di masing-masing cabor.
Pelatihan yang bekerja sama dengan Fakultas Pendidikan, Olahraga dan Kesehatan (FPOK) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung tersebut berlangsung selama dua hari, Kamis-Jumat (6-7/8/2026). Hari kedua diisi dengan materi dan praktik yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari.
Bagi para pelatih, materi yang diberikan menjadi bekal penting karena pembinaan atlet tidak hanya berkaitan dengan teknik dan strategi pertandingan. Kondisi fisik, kesiapan mental hingga kemampuan memberikan penanganan awal ketika atlet mengalami cedera juga menjadi bagian yang harus dipahami seorang pelatih.
Seperti yang diungkapkan Pelatih Pencak Silat, dari Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Beltim, Radiansyah. Ia mengatakan pelatihan tersebut memberikan banyak pengetahuan baru, terutama dalam metode latihan fisik dan psikologi olahraga.
Menurutnya, selama ini pelatih terkadang mengalami kesulitan membaca kondisi mental atlet, terutama menjelang pertandingan. Melalui materi psikologi olahraga, ia pun mulai memahami cara mengenali kondisi tersebut sekaligus menentukan pendekatan yang tepat kepada atlet.
“Banyak sekali manfaat yang saya dapat. Ada beberapa metode melatih fisik yang sebelumnya kurang saya pahami, akhirnya menjadi lebih paham,” kata Anca sapaan Radiansyah.
Warga Desa Mengkubang Kecamatan Damar ini juga menilai materi psikologi olahraga sangat relevan dengan kebutuhan pelatih di lapangan. Seorang atlet tidak selalu berada dalam kondisi mental yang sama, sehingga pelatih perlu memahami kondisi tersebut sebelum memberikan perlakuan.
“Kadang kami bingung bagaimana menaikkan mental atlet dan mengetahui kondisi mentalnya sebelum bertanding. Dengan pelatihan ini kami mulai terarah dan memahami bagaimana memberikan treatment,” ungkapnya.
Bagi guru olahraga di SD N 12 Manggar ini, ketiga materi yang diberikan sama-sama penting dalam olahraga pencak silat. Cabor tersebut memiliki karakter pertandingan dengan kontak fisik dan gerakan eksplosif yang berpotensi menimbulkan cedera.
Karena itu, pemahaman mengenai kondisi fisik dan teknik massage dinilai sangat membantu pelatih dalam memberikan penanganan yang tepat ketika atlet mengalami masalah fisik.
“Di pencak silat semuanya mempunyai manfaat. Apalagi silat lebih banyak kontak fisik, benturan dan gerakan eksplosif yang bisa menimbulkan cedera. Itu sangat penting,” ujar Anca.
Pelatih Tinju: Selama Ini Psikologi Atlet Sering Terabaikan
Hal serupa disampaikan Pelatih Tinju Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) Beltim, Harry Bagustiadi. Ia mengaku mendapat tambahan ilmu mengenai periodisasi latihan, psikologi olahraga hingga massage.
Menurut Harry, materi periodisasi menjadi salah satu hal yang menarik karena membantu pelatih memahami pembagian tahapan latihan secara lebih terstruktur.
“Banyak ilmu yang kami dapat di sini, terutama tentang periodisasi. Itu pembagian tahapan-tahapan latihan dan kami mendapat tambahan ilmu mengenai itu,” ungkapnya.
Pengelola Sasana Tinju Golden Star ini juga mengakui aspek psikologi atlet selama ini belum mendapat perhatian yang cukup dalam proses latihan, khususnya pada cabang olahraga tinju.
“Masalah psikologi selama ini kami agak mengabaikan. Di tinju itu kurang. Tanpa kami sadari, masalah psikologi atlet sebenarnya penting,” kata Harry.
Menurutnya, kondisi mental atlet sangat berpengaruh terhadap kesiapan menghadapi pertandingan. Karena itu, pemahaman mengenai psikologi olahraga menjadi bekal penting agar pelatih tidak hanya menyiapkan kemampuan fisik atlet.
Selain itu, materi massage juga memberikan pengetahuan dasar yang selama ini banyak diserahkan kepada tenaga lain. Setelah mengikuti pelatihan, para pelatih setidaknya memiliki pemahaman awal mengenai penanganan ketika atlet mengalami cedera atau gangguan fisik.
“Selama ini untuk massage kami menggunakan tenaga lain. Di sini kami belajar dasar-dasarnya. Ke depan mungkin bisa kami terapkan sendiri,” ujarnya.
Warga Desa Gantung ini menilai materi praktik menjadi bagian yang sangat bermanfaat karena peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga dapat melihat langsung teknik penanganan yang diberikan.
“Misalnya ada atlet cedera, minimal kami bisa melakukan penanganan awal. Tadi langsung dipraktikkan sehingga kami bisa melihat cara-caranya untuk meringankan cedera,” tambahnya.