Manggar, Diskominfo SP Beltim – “Pantang Pulang Sebelum Padam.” Kata-kata itulah yang selalu tertanam di benak para petugas pemadam kebakaran. Sebuah tugas mulia yang mengandung risiko tinggi, namun tidak jarang dianggap remeh.
Bagi Ade Juliansyah, menjadi petugas pemadam kebakaran bukan sekadar pekerjaan. Setiap kali sirene berbunyi dan laporan kebakaran masuk, tidak banyak waktu untuk berpikir. Bersama rekan-rekannya, pria 38 tahun ini harus segera bergerak menuju lokasi dan berhadapan dengan si jago merah yang tidak pernah bisa diprediksi.
Sudah 17 tahun Ade mengabdi sebagai petugas pemadam kebakaran Kabupaten Belitung Timur (Beltim). Berbagai situasi telah dihadapinya. Mulai dari kebakaran rumah dan bangunan, kebakaran lahan hingga mengevakuasi hewan berbahaya. Semua itu mengharuskannya bekerja di tengah panas, asap, medan yang sulit dan kondisi cuaca yang tidak menentu.
Namun, semua itu tidak membuatnya mundur. Bagi pria yang mengaku masih bujangan ini, tugas utama seorang petugas pemadam kebakaran adalah memberikan pertolongan kepada masyarakat, menekan kerugian harta benda dan mencegah api menjalar lebih luas.
“Kalau sudah ada laporan kebakaran, kami harus segera berangkat. Yang ada di pikiran kami bagaimana api bisa dipadamkan dan masyarakat bisa dibantu,” ungkap Ade kepada Diskominfo SP Beltim di Pos Jaga Damkar, Selasa (11/8/26).
Pekerjaan tersebut menuntut keberanian sekaligus kesabaran. Petugas tidak hanya berhadapan dengan api, tetapi juga harus mampu mengambil keputusan dalam situasi yang serba cepat.
Api yang terlihat kecil dapat berubah menjadi besar dalam hitungan menit. Kondisi di lokasi pun tidak selalu mudah. Ada bangunan yang sulit dimasuki, sumber air yang terbatas, kondisi lalu lintas yang menghambat laju kendaraan hingga kebakaran lahan yang membuat petugas harus bekerja lebih lama untuk memastikan api benar-benar padam.
Tetap Bertugas di Tengah Situasi Sulit
Salah satu pengalaman yang tidak akan dilupakan warga Desa Mekar Jaya, Kecamatan Manggar ini terjadi ketika dirinya bersama petugas pemadam lainnya berada dalam situasi kerusuhan saat aksi demonstrasi beberapa waktu lalu.
Saat itu, tugas yang seharusnya hanya berhadapan dengan api berubah menjadi situasi yang membahayakan keselamatan petugas dan kendaraan.
Ade dan rekan-rekannya harus menghadapi amukan massa ketika hendak menjalankan tugas. Puluhan batu beterbangan ke arah mobil. Salah seorang oknum pendemo bahkan menghalau kendaraan menggunakan kayu.
Akibatnya, kaca depan dan samping mobil yang dikendarainya pecah. Beruntung, pecahan kaca tidak melukainya. Melihat situasi tidak memungkinkan, dua unit mobil damkar yang turun ke lokasi pun mundur teratur.
“Kami datang ke situ karena diminta untuk memadamkan api, dengan jaminan kondisi massa sudah teratasi. Tujuan kami membantu agar kebakaran tidak meluas,” beber Ade.
Kondisi tersebut tentu tidak mudah. Di satu sisi mereka harus menjaga keselamatan diri, tetapi di sisi lain ada tugas yang harus diselesaikan. Namun, Ade memilih tidak menyimpan dendam atas kejadian tersebut.
“Kalau ditanya apakah saya marah atau dendam? Kayaknya tidak. Saya paham mereka saat itu sedang emosi dan kami pun hanya menjalankan tugas,” jawab Ade.
Pria yang berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) ini hanya menyayangkan kondisi unit kendaraan yang dikendarainya harus mengalami kerusakan akibat aksi anarkis tersebut.
Apalagi, Dinas Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Beltim hanya memiliki dua unit mobil pemadam kebakaran yang dapat dioperasikan. Kerusakan tersebut membuat salah satu unit tidak dapat digunakan secara maksimal untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Mobil Damkar 02 dengan nomor polisi BN 9812 XZ itu kini tidak dapat beroperasi secara maksimal. Dengan kondisi tanpa kaca depan, kendaraan hanya bisa dioperasikan pada siang hari. Kondisi ini menjadi perhatian tersendiri mengingat intensitas kebakaran di Kabupaten Beltim belakangan cukup tinggi.
“Mudah-mudahan dapat segera diperbaiki. Saat ini hanya satu unit yang benar-benar dapat maksimal melayani,” harap Ade.
Selama 17 tahun bertugas, Ade tidak berharap pekerjaannya selalu mendapat perhatian khusus. Baginya, kepuasan terbesar seorang petugas pemadam kebakaran adalah ketika masyarakat yang menjadi korban dapat diselamatkan dan api berhasil dikendalikan.
Setiap panggilan tugas membawa risiko. Setiap perjalanan menuju lokasi kebakaran menyimpan ketidakpastian. Namun, ketika sirene kembali berbunyi, Ade dan rekan-rekannya akan kembali bergerak. Sebab bagi mereka, jago merah boleh menyerang tanpa kenal waktu, tetapi semangat memberikan pelayanan kepada masyarakat tidak boleh padam.