Beranda / Berita / Detil Berita

Permainan Tradisional Begura dan Milut Digelar di Simpang Renggiang

24/Nov/2025, 08:29 WIB • Vera

berita #Pendidikan #Kepemudaan dan olahraga 👁️ 244x dibaca

Simpang Renggiang, Diskominfo SP Beltim –--- Dalam melestarikan seni tradisional, Pemerintah Kecamatan Simpang Renggiang melaksanakan Gelar Karya  Kokulikuler  dengan tema “Lomba Permainan Tradisional Belitung Timur" Begura dan Milut yang digelar oleh SMK Negeri 1 Simpang Renggiang. 

Kegiatan yang berlangsung dua hari, 19-20 November 2025 ini bukan sekadar perlombaan biasa, ini adalah sebuah gerakan nyata, di tengah gempuran era digital  yang menggunakan teknologi modern berupa permainan elektronik.   

Pesertanya adalah para siswa-siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) se-Kabupaten Belitung Timur (Beltim) yang ingin merasakan tantangan berbagai permainan tradisional yang ada di Pulau Belitung.

Dikatakan Camat Simpang Renggiang Adi Yusman, di kalangan anak-anak dan remaja,   olahraga tradisional jarang dimainkan padahal  permainan tradisional memiliki nilai-nilai luhur yang perlu diperkenalkan pada generasi muda.

“Permainan tradisional  sangat  penting dilestarikan dan diperkenalkan kepada generasi muda karena memiliki semangat persahabatan, kebersamaan dan kekeluargaan  diantara yang ikut bermain serta membuat perasaan dan suasana senang serta memiliki nilai sportivitas yang tinggi,” ungkap Adi.

Dalam permainan Begura yang digelar, memiliki ciri khas yang unik dan sarat kearifan lokal, sebab bola yang digunakan bukanlah bola plastik pabrikan, melainkan sebuah karya tangan yang terbuat dari anyaman daun kelapa yang dijalin dengan rapi. 

Dalam kegiatan itu, para siswa yang bertanding terlihat bukan hanya keringat  tetapi juga senyum puas, tepuk tangan, dan rasa saling menghargai. 

“Permainan Begura merupakan salah satu sarana pelatihan untuk tetap waspada, percaya pada insting, dan bekerja sama dalam tim. Dalam setiap lemparan dan penghindaran, terkandung cerita kegembiraan masa kecil yang terus hidup, dijalin seperti anyaman daun kelapa yang menjadi jantung permainan ini,” tambahnya.

Begitu juga dengan perlombaan Milut, di lapangan Milut dengan garis-garis lurus yang membentuk petak-petak memanjang.  Setiap garis adalah batas antara aman dan bahaya, antara yang diketahui dan yang belum terjajaki. Setiap petak adalah sebuah babak terakhir, sebuah fase yang harus dilalui dengan penuh kesadaran dan keberanian.

Makna dalam kegiatan itu, kata Adi, pada hakikatnya, adalah para penyerang. Kita berdiri di garis start, yang adalah kelahiran, dengan tujuan akhir di seberang sana adalah sebuah misteri. Artinya, perjalanan hidup yang ditempuh adalah metafora dari siklus hidup yang berulang yakni belajar, jatuh, bangkit, dan terus melangkah. 

Lalu, makna para penjaga yang berdiri tegap di garis horizontal pada permainan itu, adalah personifikasi dari segala rintangan, ketakutan, dan batasan yang ditemui dalam hidup.  

“Permainan Milut itu, bukan sekadar lari namun sebuah simulasi perang miniatur yang mengajarkan arti strategi, kerja sama tim, kepercayaan, dan keputusan cepat dalam tekanan. Setiap garis di tanah adalah batas yang menantang untuk ditaklukkan, menjadikan permainan sederhana ini sebagai warisan kebudayaan yang tak ternilai harganya,” tutup Adi.