Beranda / Berita / Detil Berita

Lonjakan Harga Emas Dominasi Inflasi Beltim Saat Ramadan

01/Apr/2026, 17:55 WIB • Fauzi

utama #Inflasi 👁️ 9x dibaca

Manggar, Diskominfo SP Beltim – Inflasi tahunan (year on year/y-on-y) di Kabupaten Belitung Timur (Beltim) tercatat sebesar 2,25 persen. Kenaikan harga emas menjadi penyumbang utama inflasi di Kabupaten Beltim sepanjang Maret 2026, di tengah tekanan harga selama Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah. 

Angka inflasi ini terungkap dalam Rilis Berita Resmi Statistik (BRS) Perkembangan Indeks Harga Konsumen/Inflasi Maret 2026 dan Pertumbuhan Ekonomi 2025 di Ruang Pertemuan Badan Pusat Statistik (BPS), Rabu (1/4/26) Sore. Kepala BPS Kantor Beltim, melalui Statistisi Ahli Madya, Fetia Nursih Widiastuti menyebutkan inflasi tahunan sebesar 2,25 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 107,56.

“Emas perhiasan memberikan andil sebesar 0,98 persen dari total inflasi. Hampir satu persen, ini cukup dominan,” ungkap Fetia kepada Diskominfo Beltim.

Menurutnya, kenaikan harga emas dipengaruhi kondisi global dan geopoltik. Kondisi ini membuat pemerintah daerah tidak dapat mengintervensi langsung. 

“Emas itu masuk inflasi inti dan dipengaruhi kondisi dunia. Jadi tidak bisa dikendalikan di daerah,” jelas Fetia.

Selain emas, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga menyumbang inflasi sebesar 1,47 persen, seiring meningkatnya permintaan selama Ramadan dan Idulfitri 1447 H.

“Secara bulanan, inflasi tercatat 0,31 persen dan inflasi tahun kalender sebesar 0,33 persen, yang masih berada dalam rentang target nasional,” ujar Fetia.

Di tengah tekanan inflasi, kinerja ekonomi Kabupaten Beltim menunjukkan tren positif. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi mencapai 4,30 persen, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sempat terkontraksi.

Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp11,98 triliun atau naik sekitar Rp1,01 triliun dibandingkan 2024. PDRB per kapita juga meningkat menjadi Rp89,14 juta. Pertumbuhan ini ditopang sektor pertanian, industri pengolahan, serta pertambangan dan penggalian yang kembali menguat.

Pemkab Beltim Perkuat Pengendalian Harga

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Beltim melalui Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi, Pembangunan dan Keuangan Setda Beltim, Bayu Priyambodo menegaskan bahwa dinamika inflasi perlu diantisipasi secara bersama.

Dalam sambutan Bupati Beltim, Kamarudin Muten yang dibacakannya, disampaikan bahwa kenaikan harga terjadi pada sekitar 40 persen komoditas, termasuk komoditas cumi yang sempat menyentuh Rp150.000 per kilogram.

“Kondisi ini tentu memberikan dampak terhadap daya beli masyarakat. Karena itu, diperlukan langkah pengendalian inflasi yang terukur, terkoordinasi, dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan,” kata Bayu.

Mantan Kepala Diskominfo SP Beltim ini menambahkan memasuki April, sejumlah faktor masih berpotensi memicu tekanan inflasi. Beberapa di antaranya fluktuasi harga emas serta kemungkinan penyesuaian harga bahan bakar minyak.

“Pemkab Beltim bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan terus memperkuat strategi pengendalian, mulai dari pemantauan harga, menjaga kelancaran distribusi, hingga memastikan ketersediaan bahan pokok agar tetap aman di masyarakat,” ujar Bayu. 

Pemkab Beltim juga akan terus mendorong sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan ketersediaan bahan pokok, kelancaran distribusi, serta mengantisipasi berbagai potensi gejolak harga yang dapat terjadi.