Beranda / Berita / Detil Berita

Tetap Berjuang Padamkan Api, Lima Petugas BPBD Beltim Dirawat Usai Terpapar Asap Pekat

28 Okt 2026, 08:05 WIB • Fauzi
opd #Kasus Karhutla 90x dibaca

Bagikan

Manggar, Diskominfo SP Beltim – Di tengah kepulan asap pekat dan kobaran api yang mengancam lahan, para petugas penanggulangan bencana terus berupaya menjinakkan kebakaran. Namun, di balik perjuangan memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Belitung Timur (Beltim), ada bahaya yang mengancam, bahkan ketika tubuh mulai tak lagi sanggup bertahan. 

Namun inilah resiko pekerjaan yang harus mereka hadapi setiap kali menjalankan tugas. Tidak banyak yang mereka minta, seikit senyuman dan perhatian sudah cukup menghibur perjuangan mereka.  

Lima petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Beltim dari Regu Alfa, yakni Surya, Eddo, Dicky, Rudi, dan Abe, harus mendapatkan perawatan medis setelah mengalami gangguan kesehatan usai bertugas memadamkan karhutla di kawasan Ujung Lintang, Desa Lenggang, Kecamatan Gantung, Sabtu (24/10/2026).

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Beltim, Robby Yanuar menuturkan kronologis peristiwa itu bermula ketika para petugas mendatangi lokasi kebakaran sekitar pukul 16.30 WIB. Saat tiba di lokasi, mereka menghadapi asap yang sangat pekat hingga mengganggu pernapasan.

Kondisi tersebut membuat para petugas mengalami sejumlah keluhan, mulai dari muntah, pusing, hingga sakit tenggorokan. Mereka kemudian beristirahat sejenak sebelum melanjutkan tugas penyemprotan di kawasan Mudong.

“Ketika mereka datang, asapnya itu luar biasa pekat. Mereka langsung menerobos ke dalam. Keluar dari situ, mereka muntah semua, pusing kepala, sakit tenggorokan,” ungkap Robby saat ditemui Diskominfo Beltim, Selasa (27/10/26).

Meski telah mengalami gangguan kesehatan, para petugas masih berupaya menuntaskan tugas di lapangan. Mereka baru kembali ke kantor BPBD sekitar pukul 19.00 WIB setelah menyelesaikan penanganan di kawasan Mudong.

Namun, setibanya di kantor, kondisi kelima petugas dilaporkan semakin lemah. Melihat keadaan tersebut, Robby segera membawa mereka ke Puskesmas Manggar untuk mendapatkan penanganan medis.

“Pulang dari Mudong sekitar pukul tujuh malam, mereka sudah sangat lemah. Saya langsung bawa ke Puskesmas,” tuturnya.

Mendapat Penanganan hingga Dini Hari

Di Puskesmas Manggar, kelima petugas mendapatkan penanganan medis, termasuk pemberian oksigen dan obat-obatan sesuai tindakan petugas kesehatan. Menurut Robby, mereka menjalani perawatan sejak sekitar pukul 20.00 WIB hingga pukul 02.00 WIB dini hari. Setelah mendapatkan penanganan, kondisi mereka berangsur membaik dan pada pagi harinya sudah kembali segar.

“Kita menduga adanya paparan asap di lokasi kebakaran menjadi pemicu gangguan kesehatan yang dialami para petugas. Terdapat bahan tertentu yang ikut terbakar sehingga menghasilkan asap dengan dampak lebih berat. Namun, penyebab medis maupun kandungan asap tersebut belum dipastikan,” terang Robby

Peristiwa ini menjadi gambaran risiko yang dihadapi petugas di lapangan ketika menangani karhutla. Bukan hanya panas dan api yang harus dihadapi, tetapi juga asap pekat yang dapat mengganggu kondisi tubuh selama proses pemadaman.

Robby yang didampingi Kepala Seksi Rehabilitasi dan Rekontruksi BPBD, Supandi menjelaskan, tingginya frekuensi karhutla sepanjang 2026 menjadi tantangan tersendiri bagi BPBD Beltim. Kebakaran kerap terjadi di beberapa lokasi dalam waktu bersamaan, sementara jumlah personel dan unit pemadam yang tersedia terbatas.

“BPBD Beltim mengerahkan lima personel dalam setiap giliran piket. Dengan pola kerja bergantian, petugas harus menjaga kesiapan selama 24 jam agar penanganan kebakaran dapat terus dilakukan,” kata Robby.

Untuk memperkuat penanganan, BPBD juga berkoordinasi dengan Satuan Polisi Pamong Praja, unit pemadam kebakaran milik perusahaan, TNI, Polri, serta unsur masyarakat. Dukungan tersebut dibutuhkan terutama ketika kebakaran meluas atau berada di lokasi yang sulit dijangkau kendaraan pemadam.

Pada sejumlah kejadian, petugas BPBD harus masuk lebih jauh ke area kebakaran dengan membawa peralatan pemadaman yang dapat digunakan secara langsung di lapangan. Kondisi medan dan luasnya area terdampak menambah tantangan yang harus mereka hadapi.

Di tengah situasi tersebut, keselamatan petugas menjadi hal yang tidak dapat diabaikan. Peristiwa yang dialami lima anggota Regu Alfa mengingatkan bahwa upaya memadamkan karhutla membutuhkan kesiapan personel, perlengkapan pelindung yang sesuai, serta penanganan yang memperhatikan kondisi kesehatan petugas.

Di balik setiap api yang berhasil dipadamkan, ada tenaga, waktu, dan risiko yang dipertaruhkan. Karena itu, mencegah kebakaran sejak awal bukan hanya soal menjaga lahan dan lingkungan, tetapi juga membantu melindungi mereka yang berada di garis depan untuk memadamkannya.