Manggar, Diskominfo SP Beltim – Program Makanan Tambahan Bergizi (MTB) bagi anak-anak di sejumlah pulau terpencil Kabupaten Belitung Timur (Beltim) dipastikan tetap berjalan. Bahkan, program yang telah dilaksanakan sejak Januari 2026 tersebut disiapkan untuk kembali dilanjutkan pada 2027 mendatang.
Kepastian itu disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DPMDPPKB) Kabupaten Beltim, Melta Indah Nurhayati melalui Kepala Bidang Pemberdayaan Kemasyarakatan, Penataan, dan Kerjasama Antar Desa, Dini Triasti Inda Ningsih, saat ditemui Diskominfo SP di ruang kerjanya, Selasa (6/10/2026).
“Kalau sampai ini tetap pasti jalan. Karena untuk tahun 2027 pun kami sudah mengirimkan surat ke kecamatan untuk menunjuk koordinator di desa atau kecamatan,” kata Dini.
Menurutnya, program MTB tahun ini menyasar 148 anak yang tersebar di empat wilayah kepulauan. Rinciannya, 99 anak di Desa Buku Limau, 18 anak di Pulau Long, 22 anak di Pulau Ketapang, dan sembilan anak di Pulau Batu.
Jumlah penerima tersebut masih tetap dan tidak mengalami perubahan. Sasaran program merupakan anak-anak PAUD dan sekolah dasar yang berada di wilayah pulau-pulau tersebut.
Berbeda dengan program makan bergizi gratis (MBG) lengkap, MTB memang dirancang sebagai makanan tambahan. Karena itu, menu yang diberikan tidak berupa makanan berat atau nasi, melainkan tambahan asupan bergizi yang disesuaikan dengan program.
Setiap paket memiliki nilai sekitar Rp10 ribu dan diberikan enam hari dalam sepekan, yakni Senin hingga Sabtu. Menu di antaranya berupa susu UHT plain ukuran 110 mililiter, telur rebus, serta kudapan seperti biskuit yang diberikan secara bervariasi.
“Ini hanya makanan tambahan bergizi. Kalau makanan nanti akhirnya bentrok dengan MBG. Jadi ada susu kotak UHT plain 110 mililiter, telur rebus dan biskuit atau kudapan yang bervariasi,” jelas Dini.
Paket Makan Sering Telat Lantaran Gelombang Besar
Namun, menjalankan program MTB di wilayah kepulauan bukan tanpa tantangan. Persoalan terbesar justru berada pada proses distribusi makanan tambahan dari daratan menuju pulau-pulau sasaran.
Dini mengatakan, kondisi cuaca dan ketersediaan kapal menjadi faktor yang sangat menentukan. Pada waktu tertentu, kapal tidak dapat berangkat sehingga pengiriman bahan makanan ke pulau harus tertunda.
“Kendalanya itu untuk drop barang, distribusi. Apalagi yang pulau-pulau, terhalangnya di situ. Kapal tidak bisa mengirim barang. Kadang ada beberapa hari tidak bisa jalan, akhirnya kami tidak bisa drop dan tidak bisa distribusikan ke sasaran, anak-anak pulau,” ungkap Dini.
Kondisi geografis tersebut membuat pola pelaksanaan MTB di pulau berbeda dengan program yang dilaksanakan di wilayah daratan. Pengelola harus memperhitungkan waktu keberangkatan kapal sekaligus memastikan bahan makanan dapat tersedia bagi anak-anak penerima.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak menghentikan program. Pemkab Beltim bersama pihak pendukung terus mengupayakan agar kebutuhan makanan tambahan tetap dapat disalurkan kepada sasaran.
Mantan Sekretaris Kecamatan Dendang ini menjelaskan program MTB sebelumnya sempat menggunakan anggaran APBD. Namun, dukungan tersebut hanya mampu membiayai sekitar 47 hari pelaksanaan. Anggaran itu berasal dari pergeseran anggaran kegiatan lain yang kemudian diarahkan untuk mendukung pelaksanaan MTB.
Selanjutnya, keberlanjutan program didukung melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan dukungan sejumlah pihak. Dini menyebut beberapa pihak yang selama ini menjadi bagian dari dukungan tersebut, antara lain PT Timah, Bank Sumsel Babel, serta Forum CSR.
“Selama ini awal tahun, sekitar bulan Maret itu dipakai bantuan Pak Bupati, kemudian PT Timah, Bank Sumsel, lalu ke Forum CSR,” ujarnya.
Dengan jumlah 148 penerima, kebutuhan program dalam satu bulan dapat mencapai puluhan juta rupiah, tergantung jumlah hari pelaksanaan. Perhitungan tersebut dapat berubah karena adanya hari libur sekolah maupun hari besar.
Keberlanjutan MTB menjadi penting bagi anak-anak di wilayah kepulauan yang hingga kini menghadapi tantangan akses dan distribusi yang berbeda dengan anak-anak di wilayah daratan. Program tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan tambahan asupan gizi bagi anak PAUD dan SD di pulau-pulau terpencil.