Beranda / Berita / Detil Berita

Dari Panggung Kecil di Beltim, Awal Mimpi Besar Penerus Masa Depan Itu Tumbuh

05/Mei/2026, 14:37 WIB • Fauzi

utama #FLS3N 👁️ 12x dibaca

Manggar, Diskominfo SP Beltim - Riuh tepuk tangan bergema di Gedung Auditorium Zahari MZ, Selasa (5/5/26) Pagi. Satu per satu anak-anak naik ke atas panggung, ada yang berlenggang lenggok, menggambar, berdendang, bercerita, tarik suara, hingga menumpahkan imajinasi mereka. 

Di sanalah, Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat SD/MI Kabupaten Belitung Timur (Beltim) tahun 2026 berlangsung. Ini bukan sekadar lomba, tetapi panggung yang akan mewujudkan mimpi anak-anak.

Beberapa peserta menggoreskan sketsa dan torehkan kuas. Mencoba kembangkan ilustrasi dari balik titik imaji.  

Di sudut lain, generasi Alpha lainnya duduk menyendiri di luar ruangan. Masing-masing tampak asyik dengan tangan-tangan cekatan, penuh keterampilan merangkai buah tangan hingga pernak-pernik yang bisa jadi jualan. 

Seakan tak mau kalah, tim peserta lomba tari menampilkan gerakan yang kompak dan anggun. Tiga orang tampil memadukan tradisi dengan semangat muda yang mengalir alami. Di panggung kecil itu, mimpi-mimpi besar mulai menemukan jalannya. 

Di bangku penonton, wajah-wajah tegang bercampur harap terlihat jelas. Kepala sekolah, guru, orang tua, hingga teman-teman sesama peserta menjadi saksi bagaimana keberanian itu tumbuh, pelan tapi pasti.

Kegiatan yang mengusung tema “Menumbuhkan Karakter Bangsa melalui Kreativitas Seni Budaya” ini diikuti oleh 100 peserta terbaik yang lolos dari 435 siswa pada tahap penyisihan. Mereka berkompetisi dalam tujuh cabang lomba, mulai dari gambar bercerita hingga mendongeng.

Sekretaris Dinas Pendidikan Beltim, Dedy Wahyudi mengatakan kegiatan ini merupakan wahana aktualisasi unjuk prestasi peserta didik dalam bidang seni dan sastra yang juga menjadi momentum untuk mendorong pengembangan minat bakat peserta didik Sekolah Dasar di Kabupaten Beltim. 

“Kegiatan ini merupakan bagian dari proses pembinaan prestasi secara berkelanjutan, dan turut andil dalam pengembangan karakter peserta didik dalam mempersiapkan generai emas indonesia yang berkaulitas, berdaya saing dan mampu berkompetensi di tingkat nasional maupun global,” kata Dedy.

Didampingi Kepala Bidang Pembinaan SD, Andi Irawan, Dedy  menyebut FLS3N sebagai ruang penting bagi anak-anak untuk mengenali dan mengekspresikan potensi diri.

“Ini bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi bagaimana anak-anak berani tampil, berproses, dan menumbuhkan karakter melalui seni,” ujar Dedy. 

Belajar Berani, Bukan Sekadar Berprestasi

Di sela perlombaan, terlihat seorang peserta kecil menenangkan diri sebelum tampil mendongeng. Ia menarik napas panjang, lalu melangkah maju dengan mata berbinar. Ketika cerita mengalir dari bibirnya, ruang seketika hening semua larut dalam dunia yang ia bangun sendiri.

Momen-momen seperti inilah yang menjadi inti dari FLS3N. Bukan hanya hasil akhir, tetapi proses yang mengajarkan keberanian, kepercayaan diri, dan kerja keras.

Bupati Beltim Kamarudin Muten yang diwakili oleh Asisten Bidang Administrasi Umum, Zikril dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda.

“Melalui FLS3N, kita memberikan ruang bagi anak-anak untuk berekspresi dan berkreasi. Ini bagian dari upaya membangun generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter,” ujarnya.

Zikril juga mengingatkan bahwa pengalaman yang didapatkan anak-anak jauh lebih berharga daripada sekadar gelar juara.

“Menang atau kalah bukanlah tujuan utama. Yang terpenting adalah pengalaman dan semangat untuk terus belajar,” tambahnya.

Selama dua hari pelaksanaan, dari 5 hingga 6 Mei 2026, panggung FLS3N di Beltim menjadi ruang pertemuan antara bakat, budaya, dan harapan. Dari tarian hingga cerita, dari gerak hingga suara. Semuanya menjadi cerminan bahwa potensi anak-anak Beltim terus tumbuh.

Dari sini, para juara nantinya akan melangkah ke tingkat provinsi, membawa nama daerah dan harapan yang lebih besar.

Namun bagi sebagian anak, mungkin bukan piala yang paling berkesan, melainkan momen ketika mereka berani berdiri di atas panggung, menghadapi rasa takut, dan menemukan kepercayaan diri mereka sendiri.