Beranda / Berita / Detil Berita

Ratusan Warga Muhammadiyah Salat Id di Mesjid Ahmad Dahlan Manggar

20/Mar/2026, 12:42 WIB • Fauzi

berita #Idulfitri #Shalat Id 👁️ 114x dibaca

Manggar, Diskominfo SP Beltim – Lantunan takbir menggema di bawah langit cerah pagi itu, saat ratusan warga Muhammadiyah Kabupaten Belitung Timur (Beltim) memadati halaman Islamic Center Masjid Ahmad Dahlan, Desa Padang, Kecamatan Manggar, untuk melaksanakan Salat Idulfitri 1447 Hijriah, Jum’at (20/3/26) pagi.

Suasana khidmat terasa sejak pagi, ketika jamaah mulai berdatangan dari berbagai penjuru Manggar dan sekitarnya. Meski dilaksanakan lebih awal dibanding penetapan pemerintah, pelaksanaan Salat Id berlangsung lancar dan penuh kekhusyukan. 

Pengamanan juga tampak dari aparat. Waka Polres Beltim, Kompol Deddy Nuary ikut berjaga bersama beberapa personil Polres Beltim.   

Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustad Rio Ramadhan menyampaikan khutbah bertema “Kembali ke Fitrah”. Tema ini diangkat untuk mengajak umat Islam untuk kembali pada kesucian diri setelah menjalani ibadah puasa Ramadan.

Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Belitung Timur, Suhardi, mengatakan jumlah jamaah tahun ini relatif sama dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Jamaah kita ratusan orang, kurang lebih seperti biasa. Memang sebagian besar warga tempat tinggalnya cukup jauh dari lokasi ini,” ujar Suhardi.

Kepala MAN Tanjungpandan ini menjelaskan, pada tahun ini warga Muhammadiyah di Kabupaten Beltim menggelar Salat Id di dua lokasi berbeda. Yang pertama di Kecamatan Manggar, Mesjid Ahmad Dahlan dan yang kedua di Panti Asuhan Muhammadiyah di Kecamatan Gantung.

“Tidak ada pembagian khusus. Hanya saja tahun ini di Panti Gantung juga mengadakan, jadi jamaah terbagi secara alami,” jelasnya.

Tetap Khidmat di Tengah Perbedaan, Ini Penjelasan Metodenya

Perbedaan waktu pelaksanaan Idulfitri antara Muhammadiyah dengan pemerintah dan organisasi Islam lainnya kembali terjadi tahun ini. Namun, hal tersebut tidak mengurangi nilai kebersamaan di tengah masyarakat.

Suhardi menegaskan bahwa perbedaan tersebut sudah menjadi hal yang biasa dan masyarakat tetap menjaga sikap saling menghormati.

“Yang penting kita tetap rukun dan saling menghargai. Selama ini tidak ada masalah,” katanya.

Perbedaan penentuan Idulfitri terjadi karena adanya perbedaan metode dalam menentukan awal bulan Hijriah.

Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal. Di mana perhitungan astronomi yang menetapkan awal bulan baru ketika posisi bulan sudah berada di atas ufuk saat matahari terbenam, meskipun belum terlihat secara kasat mata.

Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama dan Nahdlatul Ulama (NU) menggunakan metode rukyat hilal yang dikombinasikan dengan hisab, yakni dengan menunggu hasil pengamatan langsung terhadap hilal di lapangan sebelum menetapkan awal bulan.

Perbedaan metode perhitungan bulan inilah yang kemudian menyebabkan seringnya terjadi perbedaan waktu dalam penetapan Idulfitri, Ramadan atau Iduladha.

Meski demikian, Suhardi menekankan bahwa perbedaan tersebut tidak perlu menjadi perdebatan, melainkan harus disikapi dengan bijak.

“Perbedaan ini sudah biasa. Yang penting kita tetap menjaga persatuan dan saling menghormati,” ujarnya.

Pelaksanaan Salat Id di Islamic Center Masjid Ahmad Dahlan pun berlangsung tertib hingga selesai. Sebelum membubarkankan diri seluruh jamaah berbaris untuk saling silaturami dan bermaaf-maafan.